Kehidupan di Desa
KEHIDUPAN DI DESA
Suatu hari seorang ayah dan keluarga yang sangat kaya membawa anaknya ke desa untuk menunjukkan kepadanya kehidupan orang-orang miskin. Mereka tinggal beberapa har di rumah seorang petani miskin. Sekembalinya dan desa, sang ayah bertanya kepada anaknya, “Bagaimana menurutmu penjalanan kita ini?”
“Hebat, Ayah,” kata anaknya.
“Apakah kau melihat bagaimana orang-orang miskin itu hidup?”
“Lalu pelajaran apa yang dapat kau ambil dar perjalanan itu?” tanya ayahnya dengan bangga.
“Aku baru sadar bahwa kita punya dua anjing sedang mereka punya empat. Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ke tengah kebun, sedang mereka mempunyai sungai yang tak memiliki ujung. Kita mengimpor lentera untuk kebun kita, mereka memiliki bintang-bintang di malam hari. Teras kita sampai ke halaman depan, sedang mereka memiliki seluruh horizon. Kita memiliki tanah tempat tinggal yang kecil, mereka memiliki halaman sejauh mata memandang. Kita mempunyai pembantu-pembantu yang melayani kita, sedang mereka memberikan pelayanan kepada orang lain. Kita membeli makanan kita, mereka memetik sendiri makanan mereka. Kita memiliki pagar yang mengelilingi dan melindungi kekayaan kita, mereka memiliki teman yang melindungi mereka.”
Sampai di sini, sang ayah tak bisa berkata apa-apa. Kemudian anaknya menambahkan, “Yah, terima kasih, engkau telah menunjukkan betapa miskinnya kita.”
Kita sening kali lupa pada segala yang kita miliki dan memusatkan penhatian hanya pada apa-apa yang tidak kita miliki. Benda-benda yang tidak bernilai di mata kita bisa jadi merupakan barang berharga di mata orang lain. Semua itu tergantung pada perspektif seseorang. Bayangkan apa yang terjadi bila kita semua mensyukuri karunia yang telah kita peroleh daripada merasa gelisah karena menghendaki lebih banyak.
Nikmatilah segala yang telah kau miliki, perhatikan kekayaan (nilai) yang terkandung di dalamnya.
Sumber: Hikmah dari Seberang. Abdullah Al-Husaini
