Budi Pekerti
Budi Pekerti
Tidak ada seorangpun di dunia ml berani mengaku berbudi pekerti luhur. Sebab pekerti yang luhur mempunyai wilayah (domain) sangat luas; meliputi semua gerak dan diam manusia yang mencerminkan keadaan batin dan ruharii seseorang; dan tidak mungkin disandang kecuali oleh orang yang berpikiran sehat.
Semua nasihat yang tidak dilandasi dengan pekerti luhur bisa memancing permusuhan. Semua bantuan yang tidak dilandasi pekerti yang luhur bisa berubah menjadi penghinaan. Aihasil, semua kebajikan yang tidak dilandasi dengari pekerti luhur akan mengakibatkan reaksi yang tidak diharapkan.
Seorang awam dengan pekerti luhur bisa mengalahkan atau menyamai kedudukan para ningrat dan bangsawan, para pemimpin negara dan ahli agama, para cerdik pandai dan tokoh terhormat dalam masyarakat.
Kalau kita amati tata krama, unggah ungguh, nilai-riilai luhur hanyalah berupa kumpulan dan pengorban-pengorbanan kecil. Sayang manusia kebanyakan enggan melakukan pengorbanan itu meski menjanjikan penghormatan, penghargaan, dan penerimaan yang jauh lebih besar dan cara-cara lain.
Akhlak mulia diajarkan dalam setiap agama, mendapatkan tempat penting dan dianggap sebagai syarat mutlak bagi yang hendak mendekatkan diri kepada Tuhannya. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat awam bisa mempraktekkan akhlak yang mulia dengan meneladani para tokoh agama, atau membaca cerita kehidupan orang-orang saleh. Dan ketahuilah, bahwa semua perilaku terpuji dalam alam ini tidak lain bersumber dan Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang oleh Allah dikatakan:
“Dan sesungguhnya kainu benar-benar berbudi pekerti agung.”
(QS 68:4)
Oleh karena itu, mereka yang ingin memiliki akhlak mulia seyogyanya meneliti kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengamalkan Sunnahnya.
Sumber: Bahagia Dunia-Akhirat. Habib Husain bin Anis Al Habsyi
