MARHABAN YA AHLIL KHAIR

Buah Apel ditukar dengan Wanita Cacat


Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh ke luar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah terbitlah air liur Tsabit, terlebih-lebih di hari yang sangat panas dan di tengah rasa lapar dan haus yang mendera. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang terlihat sangat lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya.

Maka ia segera pergi ke dalam kebun buah-buahan itu dengan maksud hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah apel yang telah terlanjur dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja ia berkata, "Aku sudah memakan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya". Orang itu menjawab, "Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya".

Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, "Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini." Pengurus kebun itu memberitahukan, "Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam".

Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orangtua itu, "Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : "Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka."

Tsabit pun akhirnya pergi juga ke rumah pemilik kebun itu dengan menempuh perjalanan 1 hari 1 malam, dan setiba disana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata, "Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu sudikah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?" Lelaki tua yang ada di hadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, "Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat." Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, "Apa syarat itu tuan?" Orang itu menjawab, "Engkau harus mengawini putriku !"

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, "Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang jatuh ke luar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?" Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, "Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang gadis yang lumpuh !"

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan semacam itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara ia memakan setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, "Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !"

Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, "Aku akan menerima pinangannya dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘Alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala". Maka pernikahanpun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, "Assalamu’alaikum."

Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya.

Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. "Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada di hadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula", kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya ?

Setelah Tsabit duduk disamping istrinya, dia bertanya, "Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa ?" Wanita itu kemudian berkata, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah". Tsabit bertanya lagi, "Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?" Wanita itu menjawab, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?" tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, "aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya mengunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala".

Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang akan memelihara dirinya dan melindungi hak-haknya sebagai suami dengan baik. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, "Ketika kulihat wajahnya Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap".

Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik rupawan itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit.

sumber: abatasa.com
Selengkapnya di sini..

Rasulullah dan Seorang Pengemis Yahudi

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya".
Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW praktis tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah
anaknya Aisyah RA yan g tidak lain tidak bukan merupakan istri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu,
"Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?". Aisyah RA menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja". Apakah Itu?", tanya Abubakar RA.
"Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi keujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana", kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik,
"Siapakah kamu ?".
Abubakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa."
"Bukan! Engkau bukan ora! ng yang biasa mendatangiku", bantah si pengemis buta itu.
"Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah.
Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku", pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu,
"Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu.
Aku adalah salah seorang dari sahabatnya,
orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW".
Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia....
" Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.
Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW? Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau?
Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq.
Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah
baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang
kita sanggup melakukannya. 

Sumber : Abatasa.com
Selengkapnya di sini..

Cara Sahabat Menghabiskan Uang


Amiril Mukminin Umar bin Khattab ra. sangat ingin mengetahui tingkah laku dan sifat dua orang sahabatnya. Dua orang sahabatnya itu merupakan orang-orang pilihan. Keduanya senantiasa menghadiri majelis Rasulullah saw. dan keutamaan mereka telah diketahui masyarakat Madinah secara umum. Mereka adalah Ubaidah bin Jarrah ra. dan Muaz bin Jabal ra.

Pada suatu hari, Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra. memanggil Ubaidah. Kemudian Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra. memberikan sebuah kantong hitam berisi uang miliknya. Amirul Mukminin berpesan, kantong uang itu hanya boleh dibuka ketika Ubaidah bin Jarrah ra. sudah tiba kembali di rumahnya.
"Aku akan membukanya di rumah," kata Ubaidah.

Betapa terkejutnya Ubaidah begitu tiba di rumah dan mendapati uang sejumlah empat ratus dinar di kantong itu. Dengan segera, Ubaidah bin Jarrah memerintahkan kepacia pelayannya untuk membawa uang itu dan dibagikan kepada setiap orang, masing-masing enam atau tujuh dinar. Ubaidah pun memerintahkan pelayannya agar tidak menyisakan sedinar pun uang di kantong itu. Setelah melaksanakan tugasnya, pelayan Ubaidah bin Jarrah ra. pulang dengan kantong uang yang kosong.

Tak berapa lama, Amirul Mukminin Umar bin Khat- tab ra. juga memberikan satu kantong uang berisi empat ratus dinar kepada Muaz bin Jabal ra.. Tak berbeda dengan Ubaidah, sesaat setelah melihat kantong penuh berisi dinar, Muaz langsung memerintahkan pelayannya untuk membawa uang itu keluar rumah. Uang itu dibagikan kepada kaum fakir miskin dan orang yang sangat membutuhkan sehingga semua mendapat bagian yang adil. Sang pelayan hanya menyisakan uang dua dinar untuk keperluan makan dan hidup sekadarnya.
Melihat kejadian ini, Amirul Mukminin merasa bahwa sungguh beruntung dirinya masih hidup di tengah- tengah orang yang zuhud dan tidak terlena oleh nikmat dunia.

"Sedekah termasuk amalan yang sangat mulia karena merupakan salah satu perwujudan ibadah hubungan antarsesama manusia (hablumminannas). Dengan sedekah, kita dapat membantu sesama kita yang membutuhkan dan kekurangan. "

Sumber : Abatasa.com
Selengkapnya di sini..

Ulama yang Bijak dan Pedagang Sayur


Di sebuah desa, tinggallah seorang Ulama yang terkenal karena kebijaksanaannya. Ulama ini sering ditanya dan dimintai nasihat oleh orang-orang desa. Salah satu penduduk desa itu adalah seorang pedagang kecil yang tiap hari berkeliling untuk berjualan sayur dengan menggunakan kereta kudanya.

Pada suatu hari si pedagang kecil itu tertimpa suatu kemalangan. Satu-satunya kuda yang dimilikinya, mati mendadak. Dia sangat kebingungan karena tidak mempunyai kuda pengganti. Dia pun tidak memiliki uang untuk membeli kuda baru. Akibatnya, sayur dagangannya menjadi busuk karena tidak teijual. Dengan sedih, dia menemui Ulama itu.

"Tuan, tolonglah aku. Aku sedang mendapat musibah. Kuda satu-satunya yang merupakan tulang punggung untuk mencari nafkah, mati. Aku tak bisa lagi mencari uang untuk anak istri. Bukankah ini adalah musibah yang buruk bagiku?" keluh si pedagang.

"Mungkin ya, mungkin juga tidak," jawab sang Ulama singkat.
Pedagang itu bingung dengan jawaban Ulama tersebut. Dia sama sekali tidak mengerti apa maksud perka-taan Ulama itu. Dia pun pulang dengan tangan hampa. Keesokan harinya, tiba-tiba di halaman rumah pedagang, muncul seekor kuda liar. Kudanya masih muda, kekar, dan sehat. Dia pun mengambil kuda itu. Hatinya bahagia. Akhirnya, pedagang tersebut bisa beijualan lagi.

"Tuan, ternyata ucapan Tuan benar. Sekarang, aku punya kuda yang lebih baik. Bukankah ini hal yang terbaik yang aku dapatkan?" pedagang itu kembali menemui sang Ulama.
Namun, seperti sebelumnya Ulama itu hanya berkata, "Mungkin ya, mungkin tidak."
Lagi-lagi pedagang itu kecewa dan bingung dengan jawaban itu. Beberapa hari kemudian, anaknya yang masih muda mencoba untuk menaiki kuda baru. Dia jatuh dan kakinya diinjak oleh kuda. Kaki anak kesayangannya patah. Betapa sedih hati pedagang itu. Anaknya yang diharapkan menjadi tulang punggung keluarga kelak, sekarang malah lumpuh. Pedagang itu pun kembali mendatangi Ulama bijak itu.

Ia berkata, "Tuan, aku benar-benar mendapat musibah. Anakku kini kakinya lumpuh dan tidak bisa bergerak. Tuan, sekarang pasti setuju bahwa musibah yang aku alami adalah musibah yang paling buruk."
Ulama itu lagi-lagi berkata, "Mungkin ya, mungkin juga tidak".

Mendengar perkataan yang sama seperti sebelum-sebelumnya, kini pedagang tersebut menjadi benar-benar marah. Dia lalu pulang sambil menggerutu. Sebulan kemudian, keriaan sedang mengalami perang dengan kerajaan lain karena kekurangan tentara. Kerajaan pun mewajibkan setiap pemuda yang berbadan sehat untuk menjadi tentara. Karena lumpuh, anak pedagang itu dibebaskan dari kewajiban itu. Akhirnya, sekarang sangpedagang bersyukur dan mengerti maksud dari ucapan Ulama bijaksana.

"Sesuatu yang menurut kita baik, belum tentu baik bagi diri kita. Sebaliknya, apa yang menurut kita tidak baik justru bisa merupakan hal yang baik bagi kita." 
Sumber : Abatasa.com
Selengkapnya di sini..

Sikap dalam Berdebat dan Bermasyarakat


Sikap Dalam Berdebat Dan Bermasyarakat
Hâtim Al-Asham ra berkunjung ke Baghdad. Warga kota menemui beliau dan berkata, “Wahai Abu ‘Abdurrahman, engkau orang ‘ajam yang gagap, tetapi mengapa engkau mampu mengalahkan semua orang yang mendebatmu?’
“Aku memiliki tiga sifat yang kutunjukkan kepada orang-orang yang menentangku, yaitu aku senang jika penentangku benar, aku sedih jika dia salah dan kujaga diriku agar tidak membodoh-bodohkannya” jawab Hâtim.
Jawaban Hâtim ini sampai kepada Imam Ahmad bin Hambal. Imam Ahmad berkata, “Maha Suci Allah, betapa bijaksananya Hâtim, mari kita kunjungi dia.”
Ketika bertemu dengan Hâtim, Imam Abmad bertanya kepadanya, “Wahai Abü Abdurrahman, bagaimana caranya agar kita selamat dan dunia?’
“Wahai hamba Allah, kamu tidak akan selamat dan dunia, kecuali jika memiliki 4 sifat berikut: memaafkan kebodohan (kesalahan) orang lain, kau cegah kebodohanmu dan mereka, kau dermakan hartamu kepada mereka dan sedikit pun kau tidak mengharapkan harta mereka. Jika kau dapat bersikap demikian, maka kau selamat.” jawab Hâtim.
Sumber: Hikayatul Yamaniyah. Habib Muhammad bin Hadi Assegaff.
Selengkapnya di sini..

Budi Pekerti


Budi Pekerti
Tidak ada seorangpun di dunia ml berani mengaku berbudi pekerti luhur. Sebab pekerti yang luhur mempunyai wilayah (domain) sangat luas; meliputi semua gerak dan diam manusia yang mencerminkan keadaan batin dan ruharii seseorang; dan tidak mungkin disandang kecuali oleh orang yang berpikiran sehat.
Semua nasihat yang tidak dilandasi dengan pekerti luhur bisa memancing permusuhan. Semua bantuan yang tidak dilandasi pekerti yang luhur bisa berubah menjadi penghinaan. Aihasil, semua kebajikan yang tidak dilandasi dengari pekerti luhur akan mengakibatkan reaksi yang tidak diharapkan.
Seorang awam dengan pekerti luhur bisa mengalahkan atau menyamai kedudukan para ningrat dan bangsawan, para pemimpin negara dan ahli agama, para cerdik pandai dan tokoh terhormat dalam masyarakat.
Kalau kita amati tata krama, unggah ungguh, nilai-riilai luhur hanyalah berupa kumpulan dan pengorban-pengorbanan kecil. Sayang manusia kebanyakan enggan melakukan pengorbanan itu meski menjanjikan penghormatan, penghargaan, dan penerimaan yang jauh lebih besar dan cara-cara lain.
Akhlak mulia diajarkan dalam setiap agama, mendapatkan tempat penting dan dianggap sebagai syarat mutlak bagi yang hendak mendekatkan diri kepada Tuhannya. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat awam bisa mempraktekkan akhlak yang mulia dengan meneladani para tokoh agama, atau membaca cerita kehidupan orang-orang saleh. Dan ketahuilah, bahwa semua perilaku terpuji dalam alam ini tidak lain bersumber dan Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang oleh Allah dikatakan:
“Dan sesungguhnya kainu benar-benar berbudi pekerti agung.”
(QS 68:4)
Oleh karena itu, mereka yang ingin memiliki akhlak mulia seyogyanya meneliti kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengamalkan Sunnahnya.
Sumber: Bahagia Dunia-Akhirat. Habib Husain bin Anis Al Habsyi
Selengkapnya di sini..

Hakim Zaman Dahulu


Hakim Zaman Dahulu
Para hakim zaman dahulu terdiri dan ulama yang suka beramal dan wara’. Suatu ketika terjadi sengketa di antara dua orang yang berjual-beli unta. Pembeli mengatakan bahwa unta yang ia beli cacat; penjual mengatakan cacat itu terjadi di tempat si pembeli. Lalu mereka berdua mendatangi hakim menjelang waktu maghrib. Hakim berkata, “Datanglah kemari besok, akan kuputuskan persoalan kalian besok!”
Mereka berdua lalu pulang. Malam harinya, unta cacat itu mati. Ketika mereka berdua datang keesokan harinya, hakim memberitahu bahwa unta itu telah mati.
“Kalian sekarang tidak perlu bersengketa lagi karena aku akan membayar harga unta itu,” kata pak Hakim. “Kelalaian ada di pihakku karena perkara kalian tidak kuselesaikan kemarin.”
Hakim itu lalu membayar harga unta kepada sang pembeli.
Sumber: Hikayatul Yamaniyah. Habib Muhammad bin Hadi Assegaff
Selengkapnya di sini..

Kehidupan di Desa


KEHIDUPAN DI DESA
Suatu hari seorang ayah dan keluarga yang sangat kaya membawa anaknya ke desa untuk menunjukkan kepadanya kehidupan orang-orang miskin. Mereka tinggal beberapa har di rumah seorang petani miskin. Sekembalinya dan desa, sang ayah bertanya kepada anaknya, “Bagaimana menurutmu penjalanan kita ini?”
“Hebat, Ayah,” kata anaknya.
“Apakah kau melihat bagaimana orang-orang miskin itu hidup?”
“Lalu pelajaran apa yang dapat kau ambil dar perjalanan itu?” tanya ayahnya dengan bangga.
“Aku baru sadar bahwa kita punya dua anjing sedang mereka punya empat. Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ke tengah kebun, sedang mereka mempunyai sungai yang tak memiliki ujung. Kita mengimpor lentera untuk kebun kita, mereka memiliki bintang-bintang di malam hari. Teras kita sampai ke halaman depan, sedang mereka memiliki seluruh horizon. Kita memiliki tanah tempat tinggal yang kecil, mereka memiliki halaman sejauh mata memandang. Kita mempunyai pembantu-pembantu yang melayani kita, sedang mereka memberikan pelayanan kepada orang lain. Kita membeli makanan kita, mereka memetik sendiri makanan mereka. Kita memiliki pagar yang mengelilingi dan melindungi kekayaan kita, mereka memiliki teman yang melindungi mereka.”
Sampai di sini, sang ayah tak bisa berkata apa-apa. Kemudian anaknya menambahkan, “Yah, terima kasih, engkau telah menunjukkan betapa miskinnya kita.”

Kita sening kali lupa pada segala yang kita miliki dan memusatkan penhatian hanya pada apa-apa yang tidak kita miliki. Benda-benda yang tidak bernilai di mata kita bisa jadi merupakan barang berharga di mata orang lain. Semua itu tergantung pada perspektif seseorang. Bayangkan apa yang terjadi bila kita semua mensyukuri karunia yang telah kita peroleh daripada merasa gelisah karena menghendaki lebih banyak.
Nikmatilah segala yang telah kau miliki, perhatikan kekayaan (nilai) yang terkandung di dalamnya.
Sumber: Hikmah dari Seberang. Abdullah Al-Husaini

Selengkapnya di sini..

Nasihat Bagi Calon Pengantin


Nasihat Bagi Calon Pengantin
Asma’ bin Kharijah Al-Fazzari rha berkata kepada putninya di hari pernikahannya:
Saat ini engkau keluar dan sangkar emasmu menuju ranjang yang tak kau kenal dan teman yang engkau belum terbiasa dengannya. Jadilah engkau buminya, maka dia akan menjadi langitrnu. Jadilah permadaninya, dia akan menjadi tiang sandaranmu. Jadilah budaknya, maka dia akan menjadi budakmu. Jangan menyelimuti dirimu, karena dia akan membencimu dan jangan menjauhinya karena dia akan melupakanmu. Jika dia mendekatimu, maka mendekatlah engkau kepadanya. Jika dia menjauhimu (lagi marah), maka menjauhlah engkau darinya. Jagalah penciuman, pendengaran dan penglihatannya. Sehingga dia hanya akan mencium aroma yang sedap darimu, mendengar kata-kata yang baik dan melihat pemandangan yang cantik.
Sumber: Imam Al-Ghazali Bercerita. Novel bin Muhammad Alaydrus.
Selengkapnya di sini..